Oke, langsung kita saja kita mulai. Selamat membaca...
SANG PENGELANA MIMPI
Karya : Dandy Fajar
Mahendra / IX – A / 24
Kulihat hujan cukup deras di luar sana. Mataku
terus memandangi langit yang terus saja menangis. Seolah berusaha menutupi
cahaya mentari untuk masuk ke dalam kehidupanku. Setelah cukup terang, akupun
berpamitan kepada kedua orang tuaku untuk berangkat ke sekolah. Hari ini, aku
harus berangkat lebih pagi karena ada upacara.
“Ma,Pa, Aku berangkat
dulu,ya.” Kataku.
“Iya,hati-hati di
jalan,ya” Jawab Mamaku.
“Iya, Assalamua’laikum.”
Sekarang, aku telah berada
di depan sekolahku yang terlihat masih sepi. Aku mulai memasuki kelasku dengan
semua pikiran yang ada di otakku. Namun, tiba-tiba aku menoleh karena panggilan
dari seorang sahabatku.
“Ndy, Tumben banget datang
pagi ? Apa ada tugas yang belum kamu kerjakan?” Tanyanya.
“Gak kok, aku hanya ingin
berangkat agak pagi aja. Bukankah sekarang ada upacara Bendera,Pik ?” Tanyaku
kepada sahabatku, Opik.
“Apa kamu lupa ? Bukankah
hari Sabtu kemarin ada pengumuman bahwa Senin ini tidak ada upacara bendara ?
Kan kamu sendiri yang menyampaikannya ke anak-anak, Dandy.”
“Oh,ya.. Aku lupa. Yaudah,
selagi menunggu anak-anak datang. Kita ke lapangan belakang sekolah,yuk. Aku
mau berbagi cerita denganmu.”
“Oh,baiklah. Tapi, ini
bukan tentang cewek kan ?” Godanya.
“Gaklah. Aku belum
berpikir sampai kesana. Ini tentang sahabat kita, Aldo.” Jawabku tegas.
Kamipun berjalan menyusuri
lorong sekolah yang masih sepi ini. Kulihat ke dalam kelas-kelas yang pernah
kami gunakan untuk menuntut ilmu selama 4 tahun di SD ini. Seakan terkenang
kembali semua yang pernah kami lakukan disana, kami bertiga selalu bermain
bersama meski tidak ada yang menganggap kami ada. Memang kami terkenal cukup
pendiam, sulit bergaul dan memiliki kualitas akademik yang tidak terlalu
menonjol, terutama diriku.
Setelah sampai di lapangan
yang berada di belakang sekolah. Kamipun duduk di rerumputan yang cukup lebat
ini. Sambil terus menatap langit seolah mencari jawaban dari apa yang ada
dipikiranku selama ini.
“Kamu terlalu menyesali
apa yang sudah terjadi,Dandy.” Kata Opik.
“Namun aku benar-benar
merasa bersalah kepadanya. Bukankah ia yang selalu menemani kita sejak TK bahkan
jauh sebelum kamu datang ? Dan ia yang selalu menghibur kita ketika kita sedih
?” Jawabku.
“Iya, memang. Tapi,
menurutku kamu berpikir terlalu jauh. Bukankah kita masih kecil ? Mengapa kita
harus merasakan kesedihan yang terlalu berlebihan seperti ini ? Apa kamu tidak
menyesal akan kehilangan masa kecilmu ?” Timpalnya.
Yaa.. Memang kebanyakan
orang selalu bilang begitu kepadaku. Sekalipun, Orang tuaku. Apa benar aku
berpikir terlalu berlebihan tentang sahabatku yang satu ini ? Aku hanya ingin
mereka tetap bersamaku. Aku merasa, hanya mereka yang benar-benar tulus
bersahabat denganku. Tapi aku rasa, di dunia yang seramai ini hanya aku yang
dapat merasakan perasaan ini. Aku mulai mengingat rekaman flashback yang ada di kepalaku.
“Apakah kalian mau
berjanji sesuatu kepadaku ?” Tanyaku pada kedua sahabatku.
“Apa ?” Tanya mereka
bersamaan.
“Aku ingin kita semua
menjadi sahabat sejati hingga kita besar nanti. Meskipun kita telah berpisah
jauh. Kalau bisa, ketika nanti kita sudah memiliki rumah tangga
sendiri-sendiri. Aku ingin rumah kita berdekatan. Apa kalian bisa ?” Tanyaku
serius.
“Mm.. Kamu memang sahabatku
yang paling perhatian,Dandy. Kalau aku sih, mau-mau aja. Selama Tuhan
benar-benar menghendaki.” Tungkas Aldo.
“Iya, Semoga kita bisa
bersama terus,ya ?” Tambah Opik.
Seulas senyum terulas dari
bibir mungilku. Mungkin hal itu bisa terjadi, namun entah kapan. Flashbackku
terus berjalan hingga kenaikan kelas kemarin. Aku teringat dimana saat itu aku
yang merupakan anak biasa-biasa saja mendapatkan rangking tertinggi di kelasku.
Akupun sangat kaget dan gembira sekali karena setelah bersaing beberapa tahun
terakhir dengan sahabatku, Opik yang selalu berada 1 tingkat di atasku.
Akhirnya, aku berhasil mengalahkannya dan mengalahkan semua anak yang ada di
kelasku.
Namun, senyuman bahagia
itupun terhenti ketika mendengar berita bahwa salah satu sahabatku tidak naik
kelas,Aldo. Hatiku sangat-sangat terpukul saat itu. Dalam hatiku, aku menangis
sejadi-jadinya. Tapi, entah kenapa aku tidak bisa menangis sama sekali. Bumi
ini serasa berputar dan terjadi gerakan slow
motion pada semua orang. Tubuhku terasa kaku saat digoyang-goyangkan oleh Opik.
Dalam hatiku, aku bertanya ‘Apakah aku telah menelantarkan sahabatku demi ambisiku
untuk meraih prestasi ? Apakah aku telah merusak persahabatan kami ? Apakah aku
adalah orang yang paling jahat karena telah meninggalkan sahabatku jauh di
bawah sana ketika aku sudah meraih puncak kejayaanku ?”. Air mataku mulai
keluar membasahi pipiku. Aku tak kuasa menahan rasa sedihku yang kian dalam
ini. Opik hanya bisa menghiburku dengan beberapa kata yang seringkali hanya
lewat di telingaku.
“Kan masih ada aku ? Aku berjanji
akan selalu bersamamu dan kita juga akan selalu bersahabat dengan Aldo seperti
dulu.” Hiburnya.
Aku hanya diam saja.
Mungkin kali ini, Tuhan hanya mengambil 1 bagian dari hidupku. Namun, bagaimana
jika suatu hari nanti ia mengambil keduanya dari sisiku. Apakah aku bisa hidup
tanpa sahabat seperti mereka ? Aku merasa sendirian di dunia yang ramai ini.
Memang setelah aku mendapat prestasi yang cukup gemilang ini temanku jadi
semakin banyak. Namun, aku berpikir bahwa mereka semua hanya memasang senyum
palsu dihadapanku. Mereka hanya mau berteman denganku setelah aku mendapat
prestasi yang tinggi. Mereka tidak tulus bersahabat denganku. Tidak seperti
kedua sahabatku.
Lengkap sudah rasa sedihku
ketika mendengar bahwa di kelas 5 ini akan dilakukan pemisahan kelas dan hal
itu membuatku terpisah dengan sahabatku yang lain, Opik. Kini Tuhan memisahkan kami bertiga, dalam
hati aku berkata,”Apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk kami ? Apakah kami
tidak boleh untuk selalu bersama ?”. Aku sangat sedih, namun tidak seperti
sebelumnya. Mungkin aku sudah merasa cukup terbiasa menerima siksaan batin yang
sudah cukup sering aku rasakan. Sedangkan Aldo, ia sudah memiliki teman baru.
Hal itu sudah cukup membuatku senang. Setidaknya, ia tidak sendirian disana.
Dan Opik, prestasinya terus melambung.
Namun, rasa senangku kian
lama kian menghilang. Aku merasakan perubahan yang besar pada kedua sahabatku
itu. Opik mulai bersifat agak jahil dan tidak akrab denganku seperti dulu lagi
meskipun ia tetap pintar, sedangkan Aldo, ia sudah tidak pernah bermain dengan
kami meskipun hanya saling sapa atau tebar senyum. Aku merasa ada kejanggalan
pada perubahan sifat yang mereka alami. Namun, aku terus berpikir positif bahwa
itu adalah hal biasa yang terjadi pada anak yang sedang dalam masa
perkembangan.
Lama-kelamaan, rasa ini
terus menyiksa batinku. Akhirnya aku putuskan untuk bercerita pada Opik tentang
segala keluh-kesahku. Namun, ia selalu menganggap enteng semua ceritaku. Sehingga, aku tidak puas mendapat jawaban
darinya. Namun, aku masih sering mendapat nasehat darinya.
Banyak orang menganggapku
orang yang sangat mudah tersentuh perasaannya, namun itu hanya orang-orang yang
dekat denganku. Sedangkan, orang yang melihatku dari bentuk fisik, menganggap
aku orang yang sangat cuek dan sombong. Apa karena aku terlalu banyak pikiran ?
Entahlah. Aku selalu salah dan egois dalam segala hal. Aku tau itu, tapi gak
ada yang bisa aku lakukan untuk merubah hal itu.
Flashbackku terhenti setelah Opik menyadarkanku dari lamunanku.
“Dandy, apa kamu baik-baik
saja ?”
“Eh.. Iya. Aku gak
apa-apa.” Jawabku enteng.
“Ya
sudah, ayo kita kembali ke kelas. Kelihatannya sudah ramai”
“Baiklah.”
Aku
hanya mendengus pasrah.Dalam hatiku, Aku bertekad untuk selalu berusaha
mengambil sisi positif dari semua hal yang aku alami, terus belajar agar
dianggap ada, aku terus bersahabat agar tak kesepian dalam menghadapi banyak
masalah, selalu berpikir positif agar hatiku tak terlalu sakit menerima
kenyataan yang ada dan aku akan selalu melakukan yang terbaik selagi aku masih
bisa melakukannya.Masih jelek,ya ? Maaf,deh.. ._. Maklum, kan masih dalam proses belajar membuat cerpen yang bagus. Oke sekian dulu, Byee.. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar