-->
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA . . .

Kamis, 19 September 2013

CONTOH CERPEN


           Kali ini, saya akan membagikan contoh cerpen. Postingan ini saya buat sebagai bahan materi pelajaran Bahasa Indonesia dan sebagai hiburan untuk kawan-kawan. Untuk sekedar mengisi waktu luanglah ...
Oke, langsung kita saja kita mulai. Selamat membaca...

SANG PENGELANA MIMPI
Karya : Dandy Fajar Mahendra / IX – A / 24

Kulihat hujan cukup deras di luar sana. Mataku terus memandangi langit yang terus saja menangis. Seolah berusaha menutupi cahaya mentari untuk masuk ke dalam kehidupanku. Setelah cukup terang, akupun berpamitan kepada kedua orang tuaku untuk berangkat ke sekolah. Hari ini, aku harus berangkat lebih pagi karena ada upacara.
            “Ma,Pa, Aku berangkat dulu,ya.” Kataku.
            “Iya,hati-hati di jalan,ya” Jawab Mamaku.
            “Iya, Assalamua’laikum.”
            Sekarang, aku telah berada di depan sekolahku yang terlihat masih sepi. Aku mulai memasuki kelasku dengan semua pikiran yang ada di otakku. Namun, tiba-tiba aku menoleh karena panggilan dari seorang sahabatku.
            “Ndy, Tumben banget datang pagi ? Apa ada tugas yang belum kamu kerjakan?” Tanyanya.
            “Gak kok, aku hanya ingin berangkat agak pagi aja. Bukankah sekarang ada upacara Bendera,Pik ?” Tanyaku kepada sahabatku, Opik.
            “Apa kamu lupa ? Bukankah hari Sabtu kemarin ada pengumuman bahwa Senin ini tidak ada upacara bendara ? Kan kamu sendiri yang menyampaikannya ke anak-anak, Dandy.”
            “Oh,ya.. Aku lupa. Yaudah, selagi menunggu anak-anak datang. Kita ke lapangan belakang sekolah,yuk. Aku mau berbagi cerita denganmu.”
            “Oh,baiklah. Tapi, ini bukan tentang cewek kan ?” Godanya.
            “Gaklah. Aku belum berpikir sampai kesana. Ini tentang sahabat kita, Aldo.” Jawabku tegas.
            Kamipun berjalan menyusuri lorong sekolah yang masih sepi ini. Kulihat ke dalam kelas-kelas yang pernah kami gunakan untuk menuntut ilmu selama 4 tahun di SD ini. Seakan terkenang kembali semua yang pernah kami lakukan disana, kami bertiga selalu bermain bersama meski tidak ada yang menganggap kami ada. Memang kami terkenal cukup pendiam, sulit bergaul dan memiliki kualitas akademik yang tidak terlalu menonjol, terutama diriku.
            Setelah sampai di lapangan yang berada di belakang sekolah. Kamipun duduk di rerumputan yang cukup lebat ini. Sambil terus menatap langit seolah mencari jawaban dari apa yang ada dipikiranku selama ini.
            “Kamu terlalu menyesali apa yang sudah terjadi,Dandy.” Kata Opik.
            “Namun aku benar-benar merasa bersalah kepadanya. Bukankah ia yang selalu menemani kita sejak TK bahkan jauh sebelum kamu datang ? Dan ia yang selalu menghibur kita ketika kita sedih ?” Jawabku.
            “Iya, memang. Tapi, menurutku kamu berpikir terlalu jauh. Bukankah kita masih kecil ? Mengapa kita harus merasakan kesedihan yang terlalu berlebihan seperti ini ? Apa kamu tidak menyesal akan kehilangan masa kecilmu ?” Timpalnya.
            Yaa.. Memang kebanyakan orang selalu bilang begitu kepadaku. Sekalipun, Orang tuaku. Apa benar aku berpikir terlalu berlebihan tentang sahabatku yang satu ini ? Aku hanya ingin mereka tetap bersamaku. Aku merasa, hanya mereka yang benar-benar tulus bersahabat denganku. Tapi aku rasa, di dunia yang seramai ini hanya aku yang dapat merasakan perasaan ini. Aku mulai mengingat rekaman flashback yang ada di kepalaku.
            “Apakah kalian mau berjanji sesuatu kepadaku ?” Tanyaku pada kedua sahabatku.
            “Apa ?” Tanya mereka bersamaan.
            “Aku ingin kita semua menjadi sahabat sejati hingga kita besar nanti. Meskipun kita telah berpisah jauh. Kalau bisa, ketika nanti kita sudah memiliki rumah tangga sendiri-sendiri. Aku ingin rumah kita berdekatan. Apa kalian bisa ?” Tanyaku serius.
            “Mm.. Kamu memang sahabatku yang paling perhatian,Dandy. Kalau aku sih, mau-mau aja. Selama Tuhan benar-benar menghendaki.” Tungkas Aldo.
            “Iya, Semoga kita bisa bersama terus,ya ?” Tambah Opik.
            Seulas senyum terulas dari bibir mungilku. Mungkin hal itu bisa terjadi, namun entah kapan. Flashbackku terus berjalan hingga kenaikan kelas kemarin. Aku teringat dimana saat itu aku yang merupakan anak biasa-biasa saja mendapatkan rangking tertinggi di kelasku. Akupun sangat kaget dan gembira sekali karena setelah bersaing beberapa tahun terakhir dengan sahabatku, Opik yang selalu berada 1 tingkat di atasku. Akhirnya, aku berhasil mengalahkannya dan mengalahkan semua anak yang ada di kelasku.
            Namun, senyuman bahagia itupun terhenti ketika mendengar berita bahwa salah satu sahabatku tidak naik kelas,Aldo. Hatiku sangat-sangat terpukul saat itu. Dalam hatiku, aku menangis sejadi-jadinya. Tapi, entah kenapa aku tidak bisa menangis sama sekali. Bumi ini serasa berputar dan terjadi gerakan slow motion pada semua orang. Tubuhku terasa kaku saat digoyang-goyangkan oleh Opik. Dalam hatiku, aku bertanya ‘Apakah aku telah menelantarkan sahabatku demi ambisiku untuk meraih prestasi ? Apakah aku telah merusak persahabatan kami ? Apakah aku adalah orang yang paling jahat karena telah meninggalkan sahabatku jauh di bawah sana ketika aku sudah meraih puncak kejayaanku ?”. Air mataku mulai keluar membasahi pipiku. Aku tak kuasa menahan rasa sedihku yang kian dalam ini. Opik hanya bisa menghiburku dengan beberapa kata yang seringkali hanya lewat di telingaku.
            “Kan masih ada aku ? Aku berjanji akan selalu bersamamu dan kita juga akan selalu bersahabat dengan Aldo seperti dulu.” Hiburnya.
            Aku hanya diam saja. Mungkin kali ini, Tuhan hanya mengambil 1 bagian dari hidupku. Namun, bagaimana jika suatu hari nanti ia mengambil keduanya dari sisiku. Apakah aku bisa hidup tanpa sahabat seperti mereka ? Aku merasa sendirian di dunia yang ramai ini. Memang setelah aku mendapat prestasi yang cukup gemilang ini temanku jadi semakin banyak. Namun, aku berpikir bahwa mereka semua hanya memasang senyum palsu dihadapanku. Mereka hanya mau berteman denganku setelah aku mendapat prestasi yang tinggi. Mereka tidak tulus bersahabat denganku. Tidak seperti kedua sahabatku.
            Lengkap sudah rasa sedihku ketika mendengar bahwa di kelas 5 ini akan dilakukan pemisahan kelas dan hal itu membuatku terpisah dengan sahabatku yang lain, Opik.  Kini Tuhan memisahkan kami bertiga, dalam hati aku berkata,”Apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk kami ? Apakah kami tidak boleh untuk selalu bersama ?”. Aku sangat sedih, namun tidak seperti sebelumnya. Mungkin aku sudah merasa cukup terbiasa menerima siksaan batin yang sudah cukup sering aku rasakan. Sedangkan Aldo, ia sudah memiliki teman baru. Hal itu sudah cukup membuatku senang. Setidaknya, ia tidak sendirian disana. Dan Opik, prestasinya terus melambung.
            Namun, rasa senangku kian lama kian menghilang. Aku merasakan perubahan yang besar pada kedua sahabatku itu. Opik mulai bersifat agak jahil dan tidak akrab denganku seperti dulu lagi meskipun ia tetap pintar, sedangkan Aldo, ia sudah tidak pernah bermain dengan kami meskipun hanya saling sapa atau tebar senyum. Aku merasa ada kejanggalan pada perubahan sifat yang mereka alami. Namun, aku terus berpikir positif bahwa itu adalah hal biasa yang terjadi pada anak yang sedang dalam masa perkembangan.
            Lama-kelamaan, rasa ini terus menyiksa batinku. Akhirnya aku putuskan untuk bercerita pada Opik tentang segala keluh-kesahku. Namun, ia selalu menganggap enteng semua ceritaku. Sehingga, aku tidak puas mendapat jawaban darinya. Namun, aku masih sering mendapat nasehat darinya.
            Banyak orang menganggapku orang yang sangat mudah tersentuh perasaannya, namun itu hanya orang-orang yang dekat denganku. Sedangkan, orang yang melihatku dari bentuk fisik, menganggap aku orang yang sangat cuek dan sombong. Apa karena aku terlalu banyak pikiran ? Entahlah. Aku selalu salah dan egois dalam segala hal. Aku tau itu, tapi gak ada yang bisa aku lakukan untuk merubah hal itu.
            Flashbackku terhenti setelah Opik menyadarkanku dari lamunanku.
            “Dandy, apa kamu baik-baik saja ?”
            “Eh.. Iya. Aku gak apa-apa.” Jawabku enteng.
            “Ya sudah, ayo kita kembali ke kelas. Kelihatannya sudah ramai”
            “Baiklah.”
            Aku hanya mendengus pasrah.Dalam hatiku, Aku bertekad untuk selalu berusaha mengambil sisi positif dari semua hal yang aku alami, terus belajar agar dianggap ada, aku terus bersahabat agar tak kesepian dalam menghadapi banyak masalah, selalu berpikir positif agar hatiku tak terlalu sakit menerima kenyataan yang ada dan aku akan selalu melakukan yang terbaik selagi aku masih bisa melakukannya.

           Masih jelek,ya ? Maaf,deh.. ._. Maklum, kan masih dalam proses belajar membuat cerpen yang bagus. Oke sekian dulu, Byee.. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar