-->
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA . . .

Senin, 21 Juli 2014

MOS SMARIHASTA : Second Day (X-1)

     Tuesday, 15 February 2014...
     Hari ini adalah hari kedua MOS di Smarihasta. Tidak berbeda jauh dengan kemaren, pagi ini akupun harus menyapa tiap kakak-kakak OSIS yang dengan setianya menunggu dan menyambut para peserta MOS di gerbang sekolah. Seperti biasa, ada kakak-kakak OSIS yang ramah dan ada juga yang jutek bingits. Pagi itu, aku ingin langsung masuk ke kelas. Lagipula, ngapain juga aku berlama-lama di aula. Ya gak ?
     Saat aku masuk ke kelas, ternyata aku adalah peserta pertama yang datang. Kelas terlihat sangat sepi dan.. dingin. Ya, memang hari itu suhunya cukup rendah. Mungkin dibawah 20 derajat Celcius. Sebenernya, aku nggak berniat datang pagi-pagi seperti ini. Saat itu aku hanya takut telat, tau sendiri kan kalo telat bisa berhadapan sama Tim MOS yang nyebelin itu ? Dan aku nggak mau berurusan dengan orang-orang itu. Beberapa menit menunggu anak lain yang datang, aku menyibukkan diriku dengan keliling-keliling kelas sambil berpikir dan mengamati segala hal yang ada. Aku hanya merasa senang aja, harapanku sejak SMP dulu terwujud. Aku nggak nyangka bisa masuk di SMA harapanku ini. Oleh karena itu, aku berusaha untuk menikmati semua hal yang ada di sini. Awalnya, leinginanku masuk kesini hanya karena 3 alasan. Ya, awalnya aku memang nggak terlalu tau mengenai SMA yang bagus. Aku cuma ngikutin kata hati aja. Alasannya adalah :
   1. Aku mendengar banyak teman dekatku yang bertujuan masuk ke Smarihasta dengan alasan sekolah ini sebagai salah satu sekolah favorit yang posisinya tengah-tengah. Jadi persaingannya nggak terlalu ketat dan aku bisa nyaman karena posisi sekolah ini yang cukup dekat dengan rumahku.
   2. Aku ingin masuk jurusan IPA
   3. Aku ingin masuk ekskul basket dan memulai semuanya dari awal lagi.
Dari ketiga misiku itu, ternyata misi awalku gagal. Ya, teman-teman akrabku yang aku harapkan sesekolah denganku gagal bertahan di seleksi PPDB. Dan sekarang, aku akan mengusahakan misi kedua dan ketigaku sebaik-baiknya. Jika ternyata ketiga misiku gagal semua. Aku nggak tau bakal jadi kayak gimana, seakan-akan aku jadi kehilangan harapan hidupku disana.
     Oke, lupakan aja. Yang terpenting sekarang jalanin dulu aja. Eh, kok aku jadi curcol ya ? Wkwk. Kembali ke cerita. Setelah semua anggota kelas X-1 datang, kami disuruh untuk berkumpul di lapangan untuk melaksanakan apel pagi. Apel pagi inilah yang ditunggu-tunggu dan yang paling greget di acara hari ini. Tau kenapa kan ? Ya, karena di apel pagi ini akan ada lomba yel-yel dan pemberian surat simpati serta antipati pada kakak-kakak OSIS. Sebelumnya, kami bersama-sama latihan yel-yel di dalam kelas, memeriksa barang bawaan anak-anak sekelas dan terakhir berbaris di depan kelas.
     Setelah menjalani apel pagi yang cukup singkat dan sedikit pengumuman tentang pondok ramadhan. Akhirnya kami memulai lomba yel-yel. Sebenernya kelas kami terutama yang cowok kurang berminat ikut lomba ini. Ya karena yel-yel ini diambil dari lagu Girlband JKT48 dan gerakannya pun nggak beda jauh. Tau sendiri kan gimana reaksinya cowok pas ngelakuin yel-yel itu ? Sedikit memalukan, itulah pemikiran kaum adam. Tapi, dengan melakukan lomba yel-yel ini kami mendapat banyak pelajaran yang berarti. Kami belajar tentang arti kekompakan, kebersamaan, keberanian, dan pentingnya berorganisasi. Inilah yel-yel kelas X-1 :

(Nada : Heavy Rotation - JKT48)
               
                                    LARES X-1
Kawanku..
I wait you..
I need you..
Slalu di hatiku
Inilah kami LARES klas X-1
Ceria slalu bersama
                                       Diriku..
                                       Dan kamu..
                                       Selalu..
                                       Berjuang bersama
                                       Kamilah kelas kebanggaan SMARIHASTA
                                       Klas calon duta dunia (2x)

     Setelah kelas kami maju menyanyikan yel-yel dengan penuh semangat dan sedikit rasa malu, akhirnya kami kembali duduk dan menyaksikan kelas lain membawakan yel-yel mereka. Kemudian, dilanjutkan ke acara selanjutnya yaitu penyerahan surat simpati dan antipati ke kakak OSIS. Ini adalah yang paling menegangkan, masalahnya surat ini langsung diberikan ke orang yang bersangkutan. Kalo surat simpati sih biasa aja, yang bermasalah itu yang surat antipati. Tapi mau gimana lagi ? Aku cuma bisa pasrah.
     Setelahnya, kami langsung diajarkan baris-berbaris di lapangan. Tapi ada satu hal yang mengejutkan di sini. Tiba-tiba, Kak Tim MOS yang mengawasi kami marah-marah ke pengajar baris-berbaris dan marah-marahnya itu terlihat membela kami, peserta MOS. Dengan adanya hal itu, kami menyimpulkan mungkin Tim MOS udah mulai melunak. Tapi, hal itu nggak bertahan lama. Setelah masuk kelas, Tim MOS kembali mengintrogasi kelas kami. Tapi meskipun udah nggak ada yang salah, seakan-akan masih ada aja yang salah di depan Tim MOS itu. Ya, sekarang mereka menyalahkan kami karena beberapa isi surat antipati yang kami kirimkan ke mereka terlalu tidak sopan. Mereka jadi makin marah. Selain itu, ketika jam kosong ada kak sie dokumentasi yang datang untuk mengambil foto kelas. Tapi karena koordinasi yang kurang benar, akhirnya terjadi konflik panas di kelas X-1. Kelas ini seakan-akan menjadi ajang kontroversi. Ini makin membuat keadaan kelas jadi makin tegang. Pemikiran kami tentang akting ini jadi mulai goyah. Apa akting bisa sesempurna ini ? Apalagi sampai nangis-nangis gini. Hari itu, MOS pun diakhiri dengan keadaan yang nggak beda jauh dengan kemaren. Dan ini membuat kami merasa makin sumpek dengan adanya MOS ini serta ingin mengakhirinya secepat mungkin.

To Be Continued . . .

Minggu, 20 Juli 2014

MOS SMARIHASTA : First Day (X-1)

     Tanggal 14 - 16 Juli kemaren, aku menjalani MOS di Smarihasta. Ini aku anggap sebagai pengalaman MOS pertama karena meskipun dulu aku pernah melakukan MOS di SMP, itu terlalu mudah. Dan di MOS kali ini, aku memang merasakan perbedaannya. Yaa.. MOS ini memberi kesan yang lebih mendalam dan lebih banyak pelajaran yang bisa diambil. Karena itulah, aku ingin mengabadikannya dalam bentuk tulisan di blog ini.

    Monday, 14 February 2014...
     Hari itu adalah hari pertamaku menjalani MOS. Pada hari itu, aku datang ke sekolah dengan seragam SMP, topi kerucut berhias daun-daun kering, tas dari kain belacu, name tag, dan peralatan lain yang menunjukkan bahwa aku adalah anak MOS. Selain itu, aku juga berkewajiban untuk selalu menyapa dan memanggil kakak-kakak OSIS dengan sebutan "KAK" selama MOS berlangsung. Itu merupakan tantangan terberat bagiku karena itu akan menunjukkan sisi lainku yang biasanya hanya kuperlihatkan pada teman-teman dekatku saja. Ini seakan-akan mengajariku cara menggunakan fake smile. Hngg...
     Hari itu, setelah sebelumnya telah terpilih orang-orang yang akan menemaniku untuk menjalani untaian takdir ini. Teman-teman sekelasku, kakak-kakak PK.. Mereka dan aku memasuki jalan takdir ini. Awalnya, aku duduk bersama teman yang dulu 1 SMP denganku. Sebut saja namanya Rafqi. Namun, pada akhirnya kami terpisahi karena peraturan yang telah diberlakukan. Peraturan itu adalah kami harus duduk sebangku dengan cewek dan yang berbeda sekolah asal. Entah kenapa, saat itu aku duduk bersama seorang cewek yang berasal dari luar daerah. Ternyata, ia berasal dari SMP di daerah Kalimantan. Cukup jauh bukan ? Ia kos di daerah Malang. Aku juga melihat beberapa anak yang ternyata juga kos di Malang. Itu membuatku berpikir, mengapa mereka mencari sekolah yang sangat jauh dari tempat tinggal mereka ? Bukankah ini makin menyulitkan mereka ? Apa yang mereka pikirkan ? Namun, ada satu hal yang aku tau pasti tentang mereka. Mereka pasti anak yang pintar dan memiliki keyakinan yang teguh akan masa depan.
     Oke, kembali ke cerita. Awalnya, aku sama sekali tidak kenal dengan seluruh anggota kelas X-1 ini. Tapi, dengan berjalannya waktu kami saling mengenal karena berbagai kejadian yang seakan-akan telah dibuat secara sengaja. Melalui kebingungan, melalui kekompakan, melalui keharusan untuk mengenal 1 sama lain. Dengan adanya hal itu, aku berhasil akrab dengan beberapa anak, antara lain Maulana, Ulin, Dhika, Firda, Brandis, Neo, Wildhan dan Raafi. Awalnya, kami semua merasa senang dengan segala hal yang terjadi selama MOS berlangsung. Tapi, itu nggak bertahan lama. Ketika acara hampir selesai, tibalah Tim MOS. Tim MOS adalah julukan bagi anggota OSIS yang memiliki tugas dalam hal mendisiplinkan para peserta MOS. Kami juga menyebutnya sebagai Kak ber-bet Hitam. Saat itu juga, semua anak yang biasanya tenang dan sedikit meremehkan tugas MOS mulai terlihat tegang. Hari itu banyak anak yang dinilai salah oleh Tim MOS karena tugas yang kurang benar. Dan di hari itu juga aku pertama kalinya merasakan bagaimana rasanya MOS yang sesungguhnya. Tapi, kami semua tetap berfikir positif bahwa itu semua hanya akting yang biasa dilakukan saat MOS.
    Sebenarnya, kami tidak terlalu sebal pada Tim MOS. Hanya saja, menurut kami mereka juga salah. Masa' kami disuruh tersenyum ketika keadaan sedang serius. Dan jika kami tersenyum, katanya 'cengengesan'. Lagipula, nggak seperti kakak-kakak OSIS yang lain. Tim MOS itu nggak pernah tersenyum sekalipun saat kami semua telah menyapa mereka secara baik-baik. Huh, nyebelin banget kan ? Tapi, tetep aja, kami tidak berani ke mereka. Apalagi setelah melihat kakak-kakak OSIS lainnya yang terlihat sangat tunduk kepada mereka. Bahkan, sang ketua OSISpun juga begitu. Kami juga nggak tega melihat kakak-kakak PK kami yang terus-terusan dimarahi hanya karena kesalahan kecil kami. Bukankah mereka sudah berjuang semampu mereka ? Kenapa masih terlihat salah aja di depan Tim MOS...
    Oke, setelah itu kami kembali meneruskan acara hingga akhir dan berharap-harap cemas agar Tim menyebalkan itu nggak datang ke kelas kita lagi. Tugas untuk hari berikutnya pun makin menantang. Apakah tugasnya ?
   1. Memberi surat simpati + 1 Oreo untuk kakak OSIS yang menurut kami terbaik dan memberi surat Antipati + 1 Beng-beng untuk kakak OSIS yang menurut kami paling jahat. Dan kedua surat itu akan kami berikan secara langsung kepada yang bersangkutan besok pagi di lapangan. OMG !
   2. Membuat yel-yel kelas untuk dilombakan di lapangan besok pagi.
    Itulah beberapa tugas yang diberikan kepada kami hari itu. Maaf cuma nulis segitu, abis banyak banget sih. Aku juga males ngetiknya. Wkwk. Oke, kembali ke cerita. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan surat simpati'ku pada Kak Fira (PK X-1) dan surat antipati'ku ke Kak Silvy (Tim MOS). Hari pertama MOS pun berakhir...

To Be Continued . . .

Sabtu, 05 Juli 2014

The Beginning : (SMARIHASTA)

     Kemaren aku udah melewati PPDB Online sekaligus daftar ulang di cikal bakal sekolah baruku, SMAN 8 Malang. SMAN 8 Malang yang lebih dikenal sebagai Smarihasta merupakan SMA favoritku sejak aku di SMP dulu. Sejak dulu aku sudah banyak berkhayal banyak hal di Smarihasta. Sayangnya, kadang memang kenyataan nggak sesuai dengan harapan. Anggep aja ini yang terbaiklah !
     Kali ini mungkin aku akan sedikit menceritakan mimpi-mimpiku yang tak tercapai itu. Dan mungkin, ini cerita yang dramatis atau bisa dibilang agak membosankan. Tapi, tak apa dong berbagi cerita gini. Aku juga ngerasa nggak enak kalo nanggung semua ini sendirian. Mungkin aja nanti ada anak yang bakal satu sekolah denganku membaca ini lalu bisa berteman denganku di Smarihasta nanti. Mungkin aja kan ? Wkwk. Baiklah, kita mulai aja.
     Awalnya, keinginanku ini timbul karena banyak temen akrabku yang memiliki tujuan yang sama denganku yaitu ke Smarihasta. Aku pun merasa sangat senang, Mengapa ? Jelas dong, aku nggak mau sendirian lagi di awal sekolah nanti. Cukup pengalaman pertamaku di awal SMP dulu ! Mungkin dulu aku masih beruntung karena dibantu oleh Tuhan dalam menemukan teman. Tapi, aku nggak yakin kalo keberuntungan itu datang dua kali menghampiriku. Apalagi awal kelas X ini aku bakal langsung penjurusan. Ini membuat aku makin down kalo aku nggak berhasil masuk IPA. Untuk apa aku urutan 7 saat PPDB kalo semua harapanku sekolah disana nggak ada yang terwujud. Ditambah keadaanku sekarang yang kurang fit. Arrgh.. Ini memusingkan !
    Oke, kembali ke cerita. Awalnya aku menginginkan beberapa anak yang akan bersekolah denganku nantinya. Sebut saja namanya Opik, Pito, Wildan, Hatma, Micin, Caca, dan terakhir Qorie' yang entah berubah pikiran dari SMAN 5 (Smanla) jadi ke Smarihasta ini. Dengan adanya mereka, aku berharap akan lebih mudah mencari teman nantinya bersama dengan mereka. Tapi, mari kita lihat kenyataannya.
   1. Opik = Dia diterima di SMAN 1 (Smansa) karena dia direkomendasikan (baca : disuruh) oleh orang tuanya. Dengan NA yang cukup besar itu, tentu saja dia bisa dipastikan diterima disana tanpa perlu jatuh ke Smarihasta. Aku sendiri sebenarnya bisa masuk sana karena NA'ku lebih tinggi dari dia. Namun, ini tentang kenyamanan selama 3 tahun kedepan. Dan aku merasa lebih nyaman di Smarihasta.
   2. Pito = Awalnya dia mendaftar sama denganku yaitu di Smarihasta, sayangnya NA miliknya nggak bisa bertahan lama dalam proses pergeseran PPDB yang mengerikan itu. Dan kenyataannya, dia diterima di SMAN 9 (Smanawa) setelah tersingkir dari ketatnya persaingan di PPDB Smarihasta. Pilar penting keduaku pun akhirnya juga hilang.
   3. Wildan = Wildan adalah satu-satunya anak yang berhasil masuk di Smarihasta denganku. Meskipun dia kurang akrab denganku, itu udah cukup. Dia adalah salah satu dari beberapa kenalanku (baca : nggak akrab) di Smarihasta.
   4. Hatma = Dia adalah salah satu teman di sekolahku yang katanya mau masuk ke Smarihasta. Sayang, sepertinya NA miliknya juga tidak memungkinkan. Dan sampai sekarang pun aku nggak tau dia jadi masuk mana ?
   5. Micin = Micin adalah panggilanku untuk Rosa. Dia yang merupakan temen SD sekaligus mantanku dulu.   Ia juga berharap bisa masuk Smarihasta. Memang pada hari pertama dan kedua di PPDB, seakan ada harapan besar bahwa dia bisa masuk karena pagu Smarihasta belum penuh. Dia menyimpulkan bahwa tahun ini NUN banyak yang turun dan peminat di Smarihasta berkurang. Ternyata, itu hanyalah ilusi massal. Pada hari terakhir PPDB, ia pun tergeser dengan cepat. Akhirnya ia masuk ke Smanawa, sama seperti Pito.
   6. Caca = Sebenarnya Caca hanyalah kenalanku dulu. Dia memang nggak begitu akrab denganku. Aku hanya berharap ia masuk ke Smarihasta dengan Pito agar aku bisa melihat pertemuan mereka. Maklum, mereka dulu adalah sepasang kekasih. Jika aku bisa melihat hal itu, bisa jadi tontonan yang menarik kan ? Wkwk. Namun ternyata kenyataan berkata lain. Memang Caca sesekolah dengan Pito. Tapi kan aku jadi nggak bisa nggoda'in mereka. Ya, Caca masuk ke Smanawa juga.
   7. Qori = Qori adalah salah satu sahabat dekatku di SMP dulu, lebih tepatnya saat kelas IX dulu. Dia juga merupakan pacar dari sahabatku, Vito. Tapi sepertinya, si Vito nggak terlalu seneng kalo aku terlalu akrab dengan Qori. Apalagi dia tau kalo Qori mau masuk Smarihasta. Awalnya seperti yang lain, dia aman. Tapi, mungkin Tuhan memang punya rencana lain, ia tergeser dari Smarihasta saat waktu pergeseran akan berhenti dalam waktu 1 jam lagi. Mungkin, ini jalan terbaik agar aku nggak lebih bermasalah lagi dengan Vito. Pada akhirnya, Qori masuk ke Smanawa juga (Dan bertemu mantanku serta mantan Vito. Wkwk)
     Ya begitulah kisah SMA-ku dimulai. Aku merasa memang ditakdirkan untuk belajar bergaul. Sendirian. Aku harus mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, memahami, membuka diri dan selalu melakukan yang terbaik. Mulai hari ini, suratan takdir baru telah dibentuk untukku. Aku nggak tau sama sekali apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Aku cuma bisa yakin kalo Tuhan pasti memberi yang terbaik ! Ya, itu pasti. Tapi jujur, aku masih takut. Aku masih memiliki sedikit keraguan dalam hatiku. Tanggal 10 nanti aku sudah mulai Test Psikotest dilanjutkan dengan TPA dan kemudian rentetan kegiatan MOS. Sekarang, aku cuma berharap tuntunan Tuhan nantinya.
    Sebelum aku tutup curcolan panjangku ini, aku ingin sedikit menebak-nebak apa isi pikiran kalian setelah melihat tulisanku ini. Apakah kalian merasa bahwa aku orang yang... galau'an, cerewet, nggak asik, terlalu memikirkan masa lalu, terlalu tegang, lebay dan sejenisnya ? Haha. Aku cuma mau bilang jika kalian menganggap aku begitu. It's okay. Aku nggak masalah, tapi emang ini diriku. Dandy. Dandy yang tanpa manipulasi maupun penuh dengan fake smile dan kebohongan sifat. It's me ! Jika perubahan memang dibutuhkan, maka aku sendiri yang akan mengambil keputusan. Aku tau yang terbaik buat diriku sendiri kok. Aku hanya butuh saran, bukan jawaban. Karena semua di dunia ini adalah misteri yang cukup menyenangkan  untuk dipecahkan. Makasih. ^^


Aku ingin mengenang awal ini. Keep Fighting, Dandy ! :D