Pernah gak sih berpikir tentang alasan kita hidup di dunia ini ? Pasti pernah dong. Ada yang bilang untuk mengumpulkan bekal untuk kehidupan selanjutnya, untuk sukses, untuk membahagiakan orang tua, makmur dan sejahtera. Lalu, apa yang telah diajarkan kepada kita semua ? Langkah apa dulu yang harus kita lakukan ? Ya, bermimpi. Bermimpilah setinggi-tingginya. Berjuangla sebisa kita, bahkan jika itu harus mempertaruhkan segala hal yang kamu miliki, termasuk kebahagiaanmu sendiri. Jangan takut jatuh ! bermimpilah seakan kamu nggak akan jatuh. Cukup percaya aja pada dirimu sendiri !
Oke, sekarang masuk ke pembahasannya. Lihat ke dalam dirimu sendiri, lihat apa yang kamu perbuat selama ini, apa saja yang telah kamu korbankan. Pernahkah kamu bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa kalian melakukan semua ini ? Apakah ini merupakan tuntutan hidup atau sekedar keinginan orang tua ? Bukan. hidup ini bukanlah hal yang sesederhana itu. Hidup ini rumit, bahkan mungkin nggak akan bisa terpecahkan jika kalian benar-benar mengejar kesempurnaan. Mungkin kita pernah berpikir bahwa tujuan kita hidup selama ini adalah membahagiakan orang tua. Tujuan orang tua kita sendiri adalah melihat anak-anaknya sukses di masa depan nanti. Entah anaknya bakal inget ke mereka atau nggak, yang penting di masa depan nanti anaknya bisa sukses, mandiri dan bahagia. Oleh karena itu sekarang kita rajin bekerja, sekolah yang bener untuk mewujudka harapan itu. Dengan mind set, bahwa jika kita belajar dengan baik kita akan mendapat kerja yang baik pula dan akan bisa sukses nantinya. Bisa makmur dan sejahtera sesuai yang kalian bayangkan. Okelah, itu adalah hal yang wajar. Namun, apakah kalian tahu arti sebenarnya dari sukses dan sejahtera ?
Sukses sendiri kebanyakan disalah artikan oleh sebagian orang awam, mereka menyebutnya sebagai kaya raya. Namun, di dunia ini kalian bisa disebut sukses bukan hanya dalam hal yang bersifat lahir aja. Namun diperlukan sukses batin juga yang bisa didapat melalui pembelajaran maupun kegiatan keagamaan. Ketika kalian telah berhasil mendapatkan keduanya, maka kalian bisa disebut sebagai orang yang sukses. Sukses lebih bisa disebut cukup daripada kaya raya. Cukup untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginanmu, kebahagiaan. Ya, selama kita bisa merasa bahagia dengan segala yang kita punya, itu sudah bisa dianggap dengan sukses. Sama halnya dengan kalian terlahir di keluarga kaya raya namun kalian merasa berada di penjara yang indah. Itu nggak akan membuat kalian merasa bahagia. Oleh karena itulah terlahir istilah "Sejahtera".
Sejahtera. Sejahtera adalah suatu kondisi dimana tiap orang merasa bahagia dengan segala hal yang telah dimilikinya. Disaat orang yang kaya hidup bahagia dengan harta yang dimilikinya, namun disisi lain orang yang miskin juga bisa bahagia dan nggak iri dengan orang kaya. Mungkin kalian akan bertanya-tanya, mana mungkin hal itu bisa terjadi ? Ya, memang kesempatannya sangat kecil dan sulit meraihnya. Namun, itu ada. Begini ilustrasinya :
"Andai saja, jika orang miskin dibebaskan dari segala macam biaya ekonomi, contohnya pendidikan, pajak, dsb. Dan orang yang memiliki harta berlebih ditariki biaya yang besar untuk pendidikan, pajak, dsb. Serta hal itu diterapkan secara merata di tiap daerah. Maka kesejahteraan dipastikan akan terbentuk. Nggak ada lagi jurang yang terbentuk antara si Miskin dan si Kaya. Karena si miskin akan merasa tetap bisa hidup damai tanpa memikirkan biaya lainnya kecuali makan dan kepentingan keluarga, sedangkan si kaya akan merasa biasa saja karena kebutuhannya tetap tercukupi walau dikenai biaya yang besar. Nggak akan ada rasa iri yang terbentuk diantara mereka."
Namun, sayangnya itu nggak bisa terbentuk sesuai dengan harapan karena mind set kebanyakan orang yang memang telah salah mengartikan tentang arti dari sukses. Kebanyakan orang mengartikan bahwa ketika ia menang dan meninggalkan jauh orang yang lainnya sehingga ia merasa terbang sendiri itulah yang dianggap sukses. Maka dari itu, mereka nggak mau membuat derajat mereka setara dengan orang lainnya. Mereka seakan berlomba meraih titik tertinggi tanpa memperdulikan orang-orang yang tertinggal jauh dibelakangnya. Mereka beranggapan bahwa jika mereka menang bahkan jika itu tanpa teman disisi mereka, mereka akan hidup bahagia.
Ya, Bahagia. Itulah kunci sekaligus tujuan dari kita hidup ini. Kita mengorbankan segalanya demi meraih kebahagiaan. Sebenarnya, itu hanyalah sebuah ilusi kekesalan kita karena telah melewati masa-masa kecil. Dimana saat itu, kita nggak perlu memikirkan tanggung jawab, cinta, belajar, kaya dan harapan-harapan lainnya. Disaat kita hanya butuh bermain dan meraih kebahagiaan kita sepuas yang kita mau. Oleh karena itu, kalian ingin semua itu kembali lagi di masa depan. Meski memang nggak akan kembali seutuhnya, namun seenggaknya kita berusaha agar kita bisa tenang dan bahagia karena telah berusaha semaksimal mungkin meraih kebahagiaan kita dengan usaha kita sendiri. Kita diajari oleh pengalaman selama kita hidup, mendapat wawasan tentang segala hal yang ingin kita ketahui saat kita kecil. Itulah perbedaan antara kebahagiaan masa kecil dan kebahagiaan masa tua.
Saat kita menginjak dewasa, kita akan menjadi manusia yang super rumit. Manusia yang mengorbankan kesehatan demi segala hal dan mengorbankan segala hal demi kesehatan. Manusia yang terus bekerja tanpa menikmati hari-hari yang dilaluinya seakan ia nggak akan mati dan ia mati tanpa merasakan kebahagiaan di masa ini maupun di masa depan. Ingatlah kata-kata ini !
"Yang kita kejar selama ini adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang telah direbut secara paksa saat kita menginjak usia dewasa. Oleh karena itu, apapun yang ingin kamu lakukan. Lakukanlah dengan bahagia. Jangan biarkan aturan membuatmu merasa mati. Nikmatilah waktu-waktumu bersama orang-orang yang kamu sayang. Teruslah bekerja untuk meraih kebahagiaan, hingga kebahagiaan itu mencapai puncak saat masa tuamu tiba."
Segala rahasia kehidupan mulai dari yang paling umum hingga yang paling jarang ditemukan, rahasia hati.
Sabtu, 21 Februari 2015
Selasa, 17 Februari 2015
BElieve YOUrself!
Sejauh ini, dalam perjalanan hidupku. Aku menemukan banyak pengalaman yang mungkin nggak ternilai harganya. Persahabatan, permasalahan, konflik, cinta, rumitnya kehidupan, sudut pandang tiap orang, pendapat, wawasan. Rasanya ini membuatku makin dewasa, atau bisa juga dibilang membuatku makin pusing. Ya.. Semakin menjelang usia dewasa, permasalahan yang dipikirkan makin rumit karena berorientasi pada masa depan. Sampai saat ini pun, aku masihlah Dandy yang dulu. Yang berbeda hanyalah fisik & mungkin sedikit sifat luar aja. Ya, namun sifat dasarku tetaplah sama. Bahkan setelah perjalanan hidup yang cukup panjang ini, aku masih seperti dulu. Nggak pernah famous. Yaa, sebenarnya aku memang nggak terlalu berambisi untuk famous. Cukup memiliki segelintir teman, sahabat & orang terdekatku yang bisa memahami aku & menganggapku ada aja itu udah cukup.
Sekarang, aku adalah seorang pelajar kelas 10. Di kelas ini, aku memiliki 2 orang yang sudah kuanggap sebagai sahabatku. Setidaknya, aku masih bisa berbagi pikiran dengan mereka. Beberapa waktu yang lalu, kami sempat membahas blogku ini. Ini membuatku ingat ke blog yang sudah lama kutinggalkan ini. Namun, dari pembicaraan sahabatku, sebut saja Apin. Ia menyebutkan bahwa ia suka dengan blog yang hanya berisi tentang keluh kesah & curhatan gak jelas ini karena dalam suatu tulisanku ada yang sama dengan prinsip hidupnya. Kira-kira beginilah kalimatnya, "Aku ingin memiliki seseorang yang bisa mendebatku hingga aku benar-benar diam dan merasa puas dengan jawaban yang ia berikan. Bukan hanya pasrah tanpa melakukan perlawanan terhadap argumenku" yang menurut dia bisa diartikan seperti ini :
"Lek awakmu pengen ngalahno aku yo ancurno awakku (dalam arti berargumen). Lek awakmu gak iso, yo buktino lek aku salah" (Bicaranya dalam logat Jawa)
Pembicaraan itulah yang membuatku teringat akan blog ini. Dan juga, dengan kata-kataku sendiri itu, aku merasa ditampar keras. Seakan-akan itu menyadarkanku tentang posisiku sekarang ini. Ya, dulu aku berani berkata seperti itu karena rasa percaya diriku tinggi. Itu karena aku merasa cukup bisa di sekolah. Namun, di SMA ini keadaannya berbeda jauh. Aku bahkan merasa keadaan jadi berbalik 180 derajat terhadapku. Aku merasa bener-bener nggak berdaya disini. Namun, setelah teringat dengan kata-kata yang kutulis dengan tanganku sendiri. Aku jadi merasa tersindir. Mengapa aku yang dulunya bilang begitu sekarang jadi nyerah ? Bukannya dulu aku seakan menantang orang lain untuk menjatuhkanku ? Kenapa sekarang aku malah jatuh sendiri ? Apa hal ini udah cukup untuk membuatku nyerah ? Nggak. Seharusnya nggak! aku yakin ada aku bisa bangkit. Aku memang nggak tau akhir dari semua ini. Tapi aku cukup yakin bahwa aku bisa, aku mampu. Disekitarku, ada banyak orang yang mendukung. Apa aku bakal kalah & mengecewakan mereka semua yang selama ini telah membantuku sampai sejauh ini ? Nggak !
Ortuku, Opik, Aldo, Fabian, Irra, Apin, Dhika. Mereka semua sudah cukup untukku. Aku harus bisa! aku telah sampai sejauh ini, sudah terlambat untuk kemali lagi. Aku juga telah membawa tanggung jawab & kepercayaan yang besar dari mereka. Aku nggak bisa ninggalin itu semua sekarang. Kata-kata : "Jadilah dirimu sendiri", "BElieve YOUrself". "selama kamu nggak nyerah, kemungkinan menang nggak akan 0%", "Yang bisa mengubah dirimu hanyalah dirimu sendiri", "Semua orang pasti pernah mendapati dirinya alam situasi maju, diam maupun mundur akan mati. Tapi percayalah, Allah akan memberimu jalan. Just believe it!", "Nilai bukanlah segalanya!". "Just do it!" semua kata-kata itu cukup untuk membantuku berdiri.
SMA ini, aku bahkan gak menyangka bakal nemuin seorang pengamat semacamku. Namun, mungkin dia adalah jenis lain. Dia lebih pintar menyembunyikan banyak hal daripada aku. Meskipun kadang tindakan & pemikirannya aneh, seenggaknya aku tau kalau dia masih bertanggung jawab pada tugasnya. Tugas disini, bukan hanya dalam artian tugas sekolah. Ini jauh lebih luas dari itu. Aku jadi bisa belajar banyak darinya. Kadang, kami juga menyatakan jujur tentang pendapat masing-masing. Dia pernah bercerita bahwa awalnya dia nggak suka denganku karena sifatku yang nyerahan. Namun, belakangan ini rasa percaya diriku mulai tumbuh lagi karena dari seorang spesial. Aku rasa aku sudah memiliki sebuah pegangan sekarang. Entah pegangan itu bakalan bisa menahanku sampai nanti apa nggak. Untuk sekarang, aku cukup percaya ke dia. Iya, orang spesial yang akan mendampingiku di masa depan. Kalau itu bener, aku nggak perlu takut lagi untuk mengambil langkah. Aku percaya dia bakalan membantuku menyelesaikan semuanya.
Apin. Ia adalah orang yang sangat mudah bergaul, suka kumpul dengan teman, berpikir logis & kritis, bisa diajak bertukar pendapat, namun aku yakin dibalik matanya, ia menyembunyikan suatu hal yang bersifat pribadi & mungkin sangat perih. Tapi, aku rasa ini adalah caranya untuk menghilangkan rasa sakit dari itu semua. Dengan selalu ceria, so woles & percaya dengan dirinya sendiri. Ia hanya ingin menghabiskan masa remajanya dengan seindah-indahnya. Sebelum semua itu berakhir menjadi sebuah tanggung jawab besar, ia ingin menjadi dirinya sendiri sementara ini. Ia juga memiliki jiwa pemimpin yang tinggi, ia ingin menjadi pemimpin yang tegas, sukses dan loyal terhadap anggotanya. Ia lebih sering terpacu ketika ia melihat seorang yang berada dibawahnya dan perlu bantuan untuk bangkit. Ia ingin memacu orang dibawahnya untuk terus berusaha & mencapai kesejahteraan. Seenggaknya, itulah yang aku ketahui tentangnya sementara ini.
Dhika. Ia adalah salah satu acuanku juga di SMA ini. Ia adalah satu-satunya cowok yang masuk ke peringkat 5 besar. Ia merupakan anak aksel di SMPnya dulu, dan kuakui dia memang orang yang cerdas dan juga rajin. Ia memiliki cita-cita yang tinggi, aku rasa ia bisa meraihnya. Hanya saja ada satu hal yang nggak kusukai darinya. Ini tentang keinginannya untuk tinggal dan kerja di luar negeri. Dia berargumen bahwa kalau ia tinggal di Indonesia terus, ia nggak bisa mencapai kesejahteraan. Ia menganggap Indonesia mempersulit dirinya dalam meraih suksesnya. Aku hanya menyayangkan bahwa jika dia memang berhasil meraih itu semua, ia bakal melupakan tanah air yang selama ini telah menuntunnya sampai sejauh ini. Mungkin ia nggak terlalu tertarik untuk memperbaiki negara ini. Tapi, entahlah.. Aku hanya ingin bertemu dia dan Apin di masa depan. Aku ingin melihat, apa yang mereka peroleh dari semua ketetapan yang mereka buat sekarang.
Irra. Ia adalah orang spesialku saat ini & aku harap akan selamanya begitu. Ia yang menjadi tiang penyanggaku sekarang. Aku juga berusaha menjadi tiang penyangganya. Kami berusaha saling membantu tanpa terikat oleh suatu ikatan spesial. Cukup saling mengingatkan, menjaga & percaya satu sama lain. Sambil menunggu waktu itu tiba, aku akan membuat diriku sendiri menjadi layak.
Dari semua perkataanku ini, ada 1 hal yang merupakan inti dari semuanya.
"Hidup ini adalah milikmu, gunakan semaumu, nikmati sepuasmu namun jangan ninggalin tanggung jawabmu terhadap tugas-tugasmu. Cukup percaya pada dirimu sendiri dan jadilah.. BE YOU!"
Sekarang, aku adalah seorang pelajar kelas 10. Di kelas ini, aku memiliki 2 orang yang sudah kuanggap sebagai sahabatku. Setidaknya, aku masih bisa berbagi pikiran dengan mereka. Beberapa waktu yang lalu, kami sempat membahas blogku ini. Ini membuatku ingat ke blog yang sudah lama kutinggalkan ini. Namun, dari pembicaraan sahabatku, sebut saja Apin. Ia menyebutkan bahwa ia suka dengan blog yang hanya berisi tentang keluh kesah & curhatan gak jelas ini karena dalam suatu tulisanku ada yang sama dengan prinsip hidupnya. Kira-kira beginilah kalimatnya, "Aku ingin memiliki seseorang yang bisa mendebatku hingga aku benar-benar diam dan merasa puas dengan jawaban yang ia berikan. Bukan hanya pasrah tanpa melakukan perlawanan terhadap argumenku" yang menurut dia bisa diartikan seperti ini :
"Lek awakmu pengen ngalahno aku yo ancurno awakku (dalam arti berargumen). Lek awakmu gak iso, yo buktino lek aku salah" (Bicaranya dalam logat Jawa)
Pembicaraan itulah yang membuatku teringat akan blog ini. Dan juga, dengan kata-kataku sendiri itu, aku merasa ditampar keras. Seakan-akan itu menyadarkanku tentang posisiku sekarang ini. Ya, dulu aku berani berkata seperti itu karena rasa percaya diriku tinggi. Itu karena aku merasa cukup bisa di sekolah. Namun, di SMA ini keadaannya berbeda jauh. Aku bahkan merasa keadaan jadi berbalik 180 derajat terhadapku. Aku merasa bener-bener nggak berdaya disini. Namun, setelah teringat dengan kata-kata yang kutulis dengan tanganku sendiri. Aku jadi merasa tersindir. Mengapa aku yang dulunya bilang begitu sekarang jadi nyerah ? Bukannya dulu aku seakan menantang orang lain untuk menjatuhkanku ? Kenapa sekarang aku malah jatuh sendiri ? Apa hal ini udah cukup untuk membuatku nyerah ? Nggak. Seharusnya nggak! aku yakin ada aku bisa bangkit. Aku memang nggak tau akhir dari semua ini. Tapi aku cukup yakin bahwa aku bisa, aku mampu. Disekitarku, ada banyak orang yang mendukung. Apa aku bakal kalah & mengecewakan mereka semua yang selama ini telah membantuku sampai sejauh ini ? Nggak !
Ortuku, Opik, Aldo, Fabian, Irra, Apin, Dhika. Mereka semua sudah cukup untukku. Aku harus bisa! aku telah sampai sejauh ini, sudah terlambat untuk kemali lagi. Aku juga telah membawa tanggung jawab & kepercayaan yang besar dari mereka. Aku nggak bisa ninggalin itu semua sekarang. Kata-kata : "Jadilah dirimu sendiri", "BElieve YOUrself". "selama kamu nggak nyerah, kemungkinan menang nggak akan 0%", "Yang bisa mengubah dirimu hanyalah dirimu sendiri", "Semua orang pasti pernah mendapati dirinya alam situasi maju, diam maupun mundur akan mati. Tapi percayalah, Allah akan memberimu jalan. Just believe it!", "Nilai bukanlah segalanya!". "Just do it!" semua kata-kata itu cukup untuk membantuku berdiri.
SMA ini, aku bahkan gak menyangka bakal nemuin seorang pengamat semacamku. Namun, mungkin dia adalah jenis lain. Dia lebih pintar menyembunyikan banyak hal daripada aku. Meskipun kadang tindakan & pemikirannya aneh, seenggaknya aku tau kalau dia masih bertanggung jawab pada tugasnya. Tugas disini, bukan hanya dalam artian tugas sekolah. Ini jauh lebih luas dari itu. Aku jadi bisa belajar banyak darinya. Kadang, kami juga menyatakan jujur tentang pendapat masing-masing. Dia pernah bercerita bahwa awalnya dia nggak suka denganku karena sifatku yang nyerahan. Namun, belakangan ini rasa percaya diriku mulai tumbuh lagi karena dari seorang spesial. Aku rasa aku sudah memiliki sebuah pegangan sekarang. Entah pegangan itu bakalan bisa menahanku sampai nanti apa nggak. Untuk sekarang, aku cukup percaya ke dia. Iya, orang spesial yang akan mendampingiku di masa depan. Kalau itu bener, aku nggak perlu takut lagi untuk mengambil langkah. Aku percaya dia bakalan membantuku menyelesaikan semuanya.
Apin. Ia adalah orang yang sangat mudah bergaul, suka kumpul dengan teman, berpikir logis & kritis, bisa diajak bertukar pendapat, namun aku yakin dibalik matanya, ia menyembunyikan suatu hal yang bersifat pribadi & mungkin sangat perih. Tapi, aku rasa ini adalah caranya untuk menghilangkan rasa sakit dari itu semua. Dengan selalu ceria, so woles & percaya dengan dirinya sendiri. Ia hanya ingin menghabiskan masa remajanya dengan seindah-indahnya. Sebelum semua itu berakhir menjadi sebuah tanggung jawab besar, ia ingin menjadi dirinya sendiri sementara ini. Ia juga memiliki jiwa pemimpin yang tinggi, ia ingin menjadi pemimpin yang tegas, sukses dan loyal terhadap anggotanya. Ia lebih sering terpacu ketika ia melihat seorang yang berada dibawahnya dan perlu bantuan untuk bangkit. Ia ingin memacu orang dibawahnya untuk terus berusaha & mencapai kesejahteraan. Seenggaknya, itulah yang aku ketahui tentangnya sementara ini.
Dhika. Ia adalah salah satu acuanku juga di SMA ini. Ia adalah satu-satunya cowok yang masuk ke peringkat 5 besar. Ia merupakan anak aksel di SMPnya dulu, dan kuakui dia memang orang yang cerdas dan juga rajin. Ia memiliki cita-cita yang tinggi, aku rasa ia bisa meraihnya. Hanya saja ada satu hal yang nggak kusukai darinya. Ini tentang keinginannya untuk tinggal dan kerja di luar negeri. Dia berargumen bahwa kalau ia tinggal di Indonesia terus, ia nggak bisa mencapai kesejahteraan. Ia menganggap Indonesia mempersulit dirinya dalam meraih suksesnya. Aku hanya menyayangkan bahwa jika dia memang berhasil meraih itu semua, ia bakal melupakan tanah air yang selama ini telah menuntunnya sampai sejauh ini. Mungkin ia nggak terlalu tertarik untuk memperbaiki negara ini. Tapi, entahlah.. Aku hanya ingin bertemu dia dan Apin di masa depan. Aku ingin melihat, apa yang mereka peroleh dari semua ketetapan yang mereka buat sekarang.
Irra. Ia adalah orang spesialku saat ini & aku harap akan selamanya begitu. Ia yang menjadi tiang penyanggaku sekarang. Aku juga berusaha menjadi tiang penyangganya. Kami berusaha saling membantu tanpa terikat oleh suatu ikatan spesial. Cukup saling mengingatkan, menjaga & percaya satu sama lain. Sambil menunggu waktu itu tiba, aku akan membuat diriku sendiri menjadi layak.
Dari semua perkataanku ini, ada 1 hal yang merupakan inti dari semuanya.
"Hidup ini adalah milikmu, gunakan semaumu, nikmati sepuasmu namun jangan ninggalin tanggung jawabmu terhadap tugas-tugasmu. Cukup percaya pada dirimu sendiri dan jadilah.. BE YOU!"
Langganan:
Postingan (Atom)
