Kemaren aku udah melewati PPDB Online sekaligus daftar ulang di cikal bakal sekolah baruku, SMAN 8 Malang. SMAN 8 Malang yang lebih dikenal sebagai Smarihasta merupakan SMA favoritku sejak aku di SMP dulu. Sejak dulu aku sudah banyak berkhayal banyak hal di Smarihasta. Sayangnya, kadang memang kenyataan nggak sesuai dengan harapan. Anggep aja ini yang terbaiklah !
Kali ini mungkin aku akan sedikit menceritakan mimpi-mimpiku yang tak tercapai itu. Dan mungkin, ini cerita yang dramatis atau bisa dibilang agak membosankan. Tapi, tak apa dong berbagi cerita gini. Aku juga ngerasa nggak enak kalo nanggung semua ini sendirian. Mungkin aja nanti ada anak yang bakal satu sekolah denganku membaca ini lalu bisa berteman denganku di Smarihasta nanti. Mungkin aja kan ? Wkwk. Baiklah, kita mulai aja.
Awalnya, keinginanku ini timbul karena banyak temen akrabku yang memiliki tujuan yang sama denganku yaitu ke Smarihasta. Aku pun merasa sangat senang, Mengapa ? Jelas dong, aku nggak mau sendirian lagi di awal sekolah nanti. Cukup pengalaman pertamaku di awal SMP dulu ! Mungkin dulu aku masih beruntung karena dibantu oleh Tuhan dalam menemukan teman. Tapi, aku nggak yakin kalo keberuntungan itu datang dua kali menghampiriku. Apalagi awal kelas X ini aku bakal langsung penjurusan. Ini membuat aku makin down kalo aku nggak berhasil masuk IPA. Untuk apa aku urutan 7 saat PPDB kalo semua harapanku sekolah disana nggak ada yang terwujud. Ditambah keadaanku sekarang yang kurang fit. Arrgh.. Ini memusingkan !
Oke, kembali ke cerita. Awalnya aku menginginkan beberapa anak yang akan bersekolah denganku nantinya. Sebut saja namanya Opik, Pito, Wildan, Hatma, Micin, Caca, dan terakhir Qorie' yang entah berubah pikiran dari SMAN 5 (Smanla) jadi ke Smarihasta ini. Dengan adanya mereka, aku berharap akan lebih mudah mencari teman nantinya bersama dengan mereka. Tapi, mari kita lihat kenyataannya.
1. Opik = Dia diterima di SMAN 1 (Smansa) karena dia direkomendasikan (baca : disuruh) oleh orang tuanya. Dengan NA yang cukup besar itu, tentu saja dia bisa dipastikan diterima disana tanpa perlu jatuh ke Smarihasta. Aku sendiri sebenarnya bisa masuk sana karena NA'ku lebih tinggi dari dia. Namun, ini tentang kenyamanan selama 3 tahun kedepan. Dan aku merasa lebih nyaman di Smarihasta.
2. Pito = Awalnya dia mendaftar sama denganku yaitu di Smarihasta, sayangnya NA miliknya nggak bisa bertahan lama dalam proses pergeseran PPDB yang mengerikan itu. Dan kenyataannya, dia diterima di SMAN 9 (Smanawa) setelah tersingkir dari ketatnya persaingan di PPDB Smarihasta. Pilar penting keduaku pun akhirnya juga hilang.
3. Wildan = Wildan adalah satu-satunya anak yang berhasil masuk di Smarihasta denganku. Meskipun dia kurang akrab denganku, itu udah cukup. Dia adalah salah satu dari beberapa kenalanku (baca : nggak akrab) di Smarihasta.
4. Hatma = Dia adalah salah satu teman di sekolahku yang katanya mau masuk ke Smarihasta. Sayang, sepertinya NA miliknya juga tidak memungkinkan. Dan sampai sekarang pun aku nggak tau dia jadi masuk mana ?
5. Micin = Micin adalah panggilanku untuk Rosa. Dia yang merupakan temen SD sekaligus mantanku dulu. Ia juga berharap bisa masuk Smarihasta. Memang pada hari pertama dan kedua di PPDB, seakan ada harapan besar bahwa dia bisa masuk karena pagu Smarihasta belum penuh. Dia menyimpulkan bahwa tahun ini NUN banyak yang turun dan peminat di Smarihasta berkurang. Ternyata, itu hanyalah ilusi massal. Pada hari terakhir PPDB, ia pun tergeser dengan cepat. Akhirnya ia masuk ke Smanawa, sama seperti Pito.
6. Caca = Sebenarnya Caca hanyalah kenalanku dulu. Dia memang nggak begitu akrab denganku. Aku hanya berharap ia masuk ke Smarihasta dengan Pito agar aku bisa melihat pertemuan mereka. Maklum, mereka dulu adalah sepasang kekasih. Jika aku bisa melihat hal itu, bisa jadi tontonan yang menarik kan ? Wkwk. Namun ternyata kenyataan berkata lain. Memang Caca sesekolah dengan Pito. Tapi kan aku jadi nggak bisa nggoda'in mereka. Ya, Caca masuk ke Smanawa juga.
7. Qori = Qori adalah salah satu sahabat dekatku di SMP dulu, lebih tepatnya saat kelas IX dulu. Dia juga merupakan pacar dari sahabatku, Vito. Tapi sepertinya, si Vito nggak terlalu seneng kalo aku terlalu akrab dengan Qori. Apalagi dia tau kalo Qori mau masuk Smarihasta. Awalnya seperti yang lain, dia aman. Tapi, mungkin Tuhan memang punya rencana lain, ia tergeser dari Smarihasta saat waktu pergeseran akan berhenti dalam waktu 1 jam lagi. Mungkin, ini jalan terbaik agar aku nggak lebih bermasalah lagi dengan Vito. Pada akhirnya, Qori masuk ke Smanawa juga (Dan bertemu mantanku serta mantan Vito. Wkwk)
Ya begitulah kisah SMA-ku dimulai. Aku merasa memang ditakdirkan untuk belajar bergaul. Sendirian. Aku harus mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, memahami, membuka diri dan selalu melakukan yang terbaik. Mulai hari ini, suratan takdir baru telah dibentuk untukku. Aku nggak tau sama sekali apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Aku cuma bisa yakin kalo Tuhan pasti memberi yang terbaik ! Ya, itu pasti. Tapi jujur, aku masih takut. Aku masih memiliki sedikit keraguan dalam hatiku. Tanggal 10 nanti aku sudah mulai Test Psikotest dilanjutkan dengan TPA dan kemudian rentetan kegiatan MOS. Sekarang, aku cuma berharap tuntunan Tuhan nantinya.
Sebelum aku tutup curcolan panjangku ini, aku ingin sedikit menebak-nebak apa isi pikiran kalian setelah melihat tulisanku ini. Apakah kalian merasa bahwa aku orang yang... galau'an, cerewet, nggak asik, terlalu memikirkan masa lalu, terlalu tegang, lebay dan sejenisnya ? Haha. Aku cuma mau bilang jika kalian menganggap aku begitu. It's okay. Aku nggak masalah, tapi emang ini diriku. Dandy. Dandy yang tanpa manipulasi maupun penuh dengan fake smile dan kebohongan sifat. It's me ! Jika perubahan memang dibutuhkan, maka aku sendiri yang akan mengambil keputusan. Aku tau yang terbaik buat diriku sendiri kok. Aku hanya butuh saran, bukan jawaban. Karena semua di dunia ini adalah misteri yang cukup menyenangkan untuk dipecahkan. Makasih. ^^
Aku ingin mengenang awal ini. Keep Fighting, Dandy ! :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar