-->
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA . . .

Kamis, 04 September 2014

Ikatan Sistem Kehidupan

     Seseorang dituntut untuk bisa mengetahui kemampuannya agar dapat memilih jalan yang sesuai untuk masa depan. Tapi, selain itu, manusia juga harus mengetahui batasannya. Dan inilah bagian tersulitnya. Ketika manusia dituntut melakukan kedua hal itu dalam waktu yang bersamaan, batasan akan kemampuan yang dimilikinya akan menjadi samar. Inilah yang aku rasakan sekarang. Semua kebijakan yang telah dibuat pasti memiliki tujuan yang baik meskipun pasti ada resiko dan tanggung jawab disana. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan suatu kebijakan, tidak ada yang bisa disalahkan. Seperti halnya perintah : "Kreatif dan Patuh", apa yang kalian pikirkan tentang kedua hal tersebut ? Kreatif dapat diartikan sebagai melawan arus sistem yang telah ditetapkan (Out of Box) untuk mendapat hasil yang lebih baik meski tetap ada resiko kegagalan. Sedangkan, Patuh adalah hal yang sangat bertolak belakang dengan kreatif. Patuh bisa kita anggap sebagai berperilaku baik dan menuruti semua sistem yang telah dibuat dengan tujuan mencapai standard yang telah ditetapkan sebagai tujuan pada sistem tersebut. Pertanyaannya, bagaimana cara menggabungkan kedua sifat itu ? Secara logis, pemikiran itu sangat rasional namun pertanyaan itu juga bisa disanggah dengan, "Di luar sana banyak orang yang bisa menggabungkan kedua sifat itu. Mengapa kamu tidak bisa ?". Dan pada akhirnya, hanya ada banyak pertanyaan yang bisa disanggah tanpa ada jawaban satupun yang jelas.
     Dalam hal ini, aku merasa batasanku adalah kelemahanku. Kelemahanku adalah sering mengeluh, yaa aku sadar akan hal itu. Tapi, yang aku inginkan bukanlah orang yang hanya mengatakan,"Dasar pengeluh!" atau hanya menjawab dengan jawaban klasik seperti,"sabar ya ?". Itu semua bullsh*t tau gak ! Selama ini, aku terbiasa mencari beberapa orang yang bisa aku ajak curhat. Namun curhat versiku adalah berdebat. Dan biasanya, aku hanya akan curhat ke orang itu lagi ketika aku merasa orang itu memang cocok denganku. Bukan berarti orang yang aku sukai selalu cocok denganku. Yang aku maksud cocok adalah orang yang mau mendebatku dengan persepsinya sendiri, yang tidak hanya meng'iya'kan perkataanku dan bisa memahami apa yang aku rasakan. Maka dari itu, sebenarnya aku sangat benci dengan orang yang dengan mudah mengatakan kepadaku,"Ya deh, aku kalah". Aku ingin ada yang mendebatku hingga aku benar-benar diam dan puas dengan penjelasan yang telah diberikan. Sayangnya, di SMA ini aku tidak bisa menemukan orang seperti itu lagi. Mungkin ini memang kesalahanku sejak awal...
     Ini bermula dari ambisi sejak SD. Ambisiku adalah untuk memusnahkan batasan yang aku miliki dalam pergaulan. Saat SD dulu, aku hanya memiliki 2 orang teman sekaligus sahabat. 2 orang itulah yang menjadi temanku selama 6 tahun di SD + 2 tahun di TK. Aku tidak memiliki teman lagi kecuali mereka, namun mereka berdua memang sangat dekat denganku hingga aku menganggap mereka sebagai saudaraku sendiri. Kami bahkan pernah membuat angan-angan yang sangat indah untuk masa depan nanti. Tapi, hal ini berubah sejak aku mendapat rangking 1 di kelas. Temanku makin banyak, sayangnya persahabatanku dengan 2 sahabatku makin buruk.
    Tapi, karena aku menganggap itu merupakan kelemahanku dalam hal pergaulan. Aku berniat untuk memperluas pertemananku di SMP. Saat aku di SMP, aku memperluas pergaulanku ke kelompok-kelompok tertentu yang menurutku bermanfaat untuk kemajuanku. Memang aku hanya mendapat sedikit teman yang akrab, namun kenalanku makin banyak. Saat itu, aku masih merasa kurang karena pada kenyataannya aku juga tidak terlalu dikenal di SMP. Maka dari itu, aku melanjutkan ambisiku di SMA ini.
     Di SMA ini, aku memperluas lagi jangkauan pertemananku. Kali ini aku berusaha kenal dengan semua anak. Tetapi, pada kenyataannya aku hanya memiliki banyak kenalan tanpa satupun sahabat yang cocok untukku. Aku bahkan hanya 'pernah' kenal dengan kenalanku tanpa tau nama mereka. Aku disini merasa sangat kesepian. Kadang aku jadi berpikir, apa ambisiku terlalu besar sehingga akhirnya jadi seperti ini ? Jika aku salah, lalu apa yang harus aku lakukan ? Aku benar-benar bingung.. Apalagi ditambah dengan masalah yang aku hadapi dalam hal pelajaran. Aku yang dulu masih bisa termasuk dalam golongan siswa yang pintar menjadi biasa saja bahkan cenderung bodoh. Akupun nggak tau apa sebabnya, aku hanya merasa makin bodoh aja karena sistem yang baru dalam bidang pendidikan ini.
     Saat ini masalah terbesarku adalah bagaimana aku mengetahui dimana letak kesalahanku dan bagaimana cara memperbaikinya ? Aku sudah terlalu dalam tenggelam dalam sistem kehidupan ini. Lalu, apa yang harus kulakukan ? Jika jawabannya 'belajar', lebih baik go to hell aja.. Itu jawaban paling mainstream dan paling klasik. Karena pada kenyataannya, kehidupan nggak segampang teori.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar